PSC Majalengka - Kamis, 13/01/22. Menindaklanjuti pemberitaan edisi sebelumnya yang telah viral diberitakan oleh beberapa media, terkait dugaan pungutan liar yang diduga dilakukan oleh oknum RT/RW desa Jatimulya, kecamatan Kasokandel, kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Diketahui oknum RT/RW desa Jatimulya diduga kuat melakukan pungutan liar kepada para penerima manfaat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dengan nominal pungutan sebesar Rp.10.000 perorang atau perpaket yang dalam artian kalau penerima mendapatkan jatah melebihi dari satu paket, maka jumlah pungutan akan dikalikan sesuai jumlah penerimaan BPNT.

Dengan viralnya pemberitaan ini, rupanya mengundang reaksi dari beberapa kalangan warga yang mempertanyakan kinerja pemerintah desa Jatimulya yang dinilai tidak becus untuk mengayomi warganya.

Dan akhirnya pihak desa Jatimulya berupaya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dengan cara membereskan permasalahan tersebut.

Namun rupanya sangat ironis, upaya pemberesan tersebut diduga kuat dengan cara akal akalan yang diduga untuk mengakali supaya tidak terjerat Hukum, pihak Pemdes Jatimulya buat Surat Pernyataan yang isi tulisannya untuk meringankan terduga pelaku pungli supaya terbebas dari Hukum, lalu kemudian dipasrahkan kepada para penerima program BPNT supaya mau menandatanganinya.

Hal ini terkuak berdasarkan pantauan awak media dari media sosial laman Facebook, melalui grup Facebook "Seputar Majalengka".

Akun Facebook bernama "Mamatjm" yang diduga salah satu warga desa Jatimulya, akun tersebut hari minggu 09/01/22, sekitar pukul 13,00. Mengaploud photo surat pernyataan yang sudah ditempel Materai Rp.10.000 belum ditandatangani, namun sudah ada format biodata serta tulisan pernyataan yang menjelaskan bahwa 

"Dengan ini menyatakan bahwa saya tidak pernah merasa ataupun dipungut biaya apapun dari ketua RT/Rw setempat, adapun saya memberikan upah secara Ikhlas Tanpa ada paksaan" tulisan sesuai tertera dalam sebagian isi surat pernyataan.

Saat mengaploud photo surat pernyataan, akun Facebook "Mamatjm" memberikan keterangan.

"Tah titah ngesian nukieu ku pa RT

Kumaha di desa NU sanes?" Red"Nih disuruh ngisi yang kaya ginian sama pa RT, bagaimana di desa yang lain?" Tertera dalam Facebook.

Dan hal tersebut mendapatkan respon dan komentar dari beberapa akun Facebook yang berada di grup Seputar Majalengka.

Untuk melengkapi informasi, awak media melakukan konfirmasi kepada Rosadi, selaku kepala desa Jatimulya melalui nomor WhatsApp/telpon: 0821 1560 xxxx Minggu 09/01/22, pukul 14,00. Dan seperti biasa sampai berita ini dimunculkan belum ada keterangan resmi dari pihak Pemdes Jatimulya.

Sebelumnya permasalahan ini terkuak, karena belakangan ini penerima BPNT  Desa Jatimulya mengeluhkan dengan adanya uang tebusan sebesar Rp 10.000 ke setiap penerima bantuan, dengan alasan buat tebusan.

Yang ironisnya pungutan tersebut dilakukan oleh ketua RT,RW dan diduga kuat diketahui oleh kepala desa dan jajarannya dan diakuinya oleh pihak Pemdes Jatimulya.

Menurut keterangan Narasumber pada hari Kamis tanggal 06/01/2022 mangatakan,

"Gini pa seharusnya kan bantuan itu gratis tanpa ada tebusan dari masyarakat penerima karena di Desa lain tidak seperti itu" ucap sumber.

"Jadi uang tebusan sesuai jumlah paket yang masyarakat terima, misalnya ada 3 paket yang diterima ya harus Rp 30.000, kan satu paket bantuan tebusannya  sebesar Rp 10.000 pa, kami heran kenapa pihak desa Jatimulya diam saja. Padahal mereka tahu, pungutan tersebut jelas dilakukan oleh RT dan RW dan uang tersebut diperuntukan bagi upah pengurus atau yang membagikan bingkisan Bantuan pangan Non Tunai (BPNT)" Pungkasnya

Penulis: Hendaro - Aceng.