PSC MAJALENGKA - Program Indonesia Pintar atau PIP merupakan bantuan berupa uang tunai, perluasan akses, dan kesempatan belajar dari pemerintah kepada anak dari keluarga kurang mampu yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat. Sementara itu, penerima PIP atau siswa yang memegang KIP akan mendapatkan dana bantuan yakni sebesar Rp 450.000 per tahun untuk jenjang SD/Paket A

Belakangan ini, sebagian murid yang bersekolah di SDN Bongas Kulon ll telah menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun ternyata dibalik kebahagiaan ini terselip pertanyaan besar, apakah dibenarkan bantuan dari pemerintah ada pemotongan? Dan hal ini diduga kuat terjadi kepada murid SDN Bongas Kulon ll yang diketahui beralamat di desa Pancaksuji, kecamatan Sumberjaya, kabupaten Majalengka tepatnya berada di belakang kantor desa Pancaksuji.

Hal ini terkuak berdasarkan informasi dari beberapa narasumber, menerangkan bahwa dalam pembagian bantuan PIP, murid SDN Bongas Kulon ll, menurut kabar beredar dari sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya bahwa dalam pembagian bantuan PIP yaitu, Dugaan pungutan kepada para penerima PIP sebesar Rp 200.000.

"Kami mendengar kabar bahwa Sebanyak 65 murid sekolah kami bulan Oktober tahun 2021 menerima bantuan pemerintah melalui program PIP dan para penerima dipungut uang sebesar Rp 200.000 oleh pa Heri yang mengakui dari pihak karang taruna kabupaten Majalengka" jelas sumber.

Saat ditemui oleh awak media kepala SDN Bongas Kulon ll, Jumhadi, S.Pd. dengan didampingi Ulpa, guru yang sekaligus bertugas untuk membagikan uang PIP menjelaskan,

"Sebanyak 65 murid sekolah kami bulan Oktober tahun 2021 menerima bantuan pemerintah melalui program PIP dengan proses awal ada orang datang kesini mengaku dari pihak karang taruna kabupaten Majalengka bernama Heri, dirinya menyarankan kepada pihak sekolah untuk mengajukan beberapa murid disini untuk didaftarkan sebagai penerima PIP. Lalu kemudian kami bikin pengajuan dan kemudian diserahkan ke Heri lalu dia yang mengurus selanjutnya"jelas kepala sekolah dengan diiyakan Ulpa.

Kemudian setelah mendapat kabar PIP bakal cair, kami bikin surat pengajuan pencairan atau pengambilan dari Bank secara kolektif. Setelah diambil dari Bank, lalu kemudian uangnya dibagikan kemurid melalui para orang tuanya yang waktunya habis Dzuhur setelah beres waktu pelajaran. Memang terjadi pungutan uang sebesar Rp 200.000 kepada penerima PIP tersebut dengan cara uangnya dikumpulkan melalui rurah Ikok salah satu orang tua murid dan kemudian menurut keterangan dari rurah Ikok uang tersebut kemudian dikasihkan ke Heri" tambahnya.

Dari keterangan tersebut awak media menemui rurah Ikok yang kebetulan bertempat tinggal dekat dengan sekolah menjelaskan, bahwa dirinya adalah sebagai orang tua murid.

"Awalnya kami para orang tua murid dapat informasi bahwasanya anak-anak kami bakal dapat bantuan PIP, dan kebetulan katanya program ini diurus oleh pa Heri yang mengaku dari pihak Karang Taruna kabupaten Majalengka. Dalam proses pengurusan PIP para orang tua melakukan beberapa kali rapat yang didalamnya membahas tentang keinginan dari pa Heri untuk meminta uang kepada penerima PIP sebesar Rp 200.000 sebagai balas jasa atas pengurusan program PIP, dan juga menurut keterangan Heri, ngasih uang tersebut cuma sekali ini saja pada saat dibagikan, kemudian kami sepakat untuk memberikan uang kepadanya" jelas rurah Ikok.

Juga menambahkan, "Saat itu waktunya sekitar sudah satu bulan terlewati dari sekarang, ada 65 murid yang baru menerima bantuan dari Program Indonesia Pintar (PIP) bertempat di sekolah, dalam hal ini saya sebagai wali murid, karena cucu saya bernama CB sekolah disini, namun kebetulan para orang tua murid menyepakati untuk mengumpulkan uang disaya untuk kemudian dikasihkan kepada Heri. Uang terkumpul dipegang sama saya sebanyak Rp 13.000.000. Lalu kemudian uang tersebut saya kasihkan dan diterima sama pa Heri besoknya dan saya sama sekali tidak mengambil sepeserpun" tambah rurah Ikok.

Untuk melengkapi informasi, awak media melakukan konfirmasi kepada Heri yang menurut keterangan dari sumber mengaku sebagai pihak karang taruna kabupaten Majalengka. Berbekal nomor WhatsApp 08311777xxxx, jum'at 03 Desember 2021 awak media mencoba menghubungi dan menelpon namun tidak pernah diangkat. Sampai berita ini dimunculkan belum ada keterangan resmi dari pihak Heri.

Penulis: Hendarto.