PSC. Majalengka - SMP Negeri 2 Kasokandel yang beralamat di Desa Ranji Kulon, Kecamatan Kasokandel, Majalengka, Jawa Barat. Baru baru ini dihebohkan dengan beredarnya informasi tak sedap dan tak pantas ditiru oleh kaum pendidik. Informasi tak senonoh tersebut ialah beredar kabar bahwa oknum Guru SMP Negeri 2 Kasokandel Nana Suherna, S.Pd yang menjabat sebagai Wakasek kesiswaan sekaligus mengajar bagian PJOK diduga kuat telah melakukan penganiayaan kepada ketujuh anak didiknya dengan cara ditampar menggunakan dua tangan tepat kedua pipi kiri kanan secara bersamaan yang cukup lumayan keras yang berakibat ketujuh siswa pipinya merasa sakit bahkan saking kerasnya tamparan diduga dari ketujuh siswa tersebut ada yang sampai merasa pusing kepala sampai lama dan ada juga yang giginya sampai goyang goyang hampir copot.

Awal permasalahan ini terkuak, berdasarkan informasi dari beberapa orang tua dan siswa juga beberapa sumber menjelaskan kepada awak media.

"Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa 12 Oktober 2021, awalnya 7 orang murid kepergok sedang mer*k*k di Toilet yang berada di lingkungan sekolah, kemudian saat itu pula ketujuh siswa laki-laki tersebut dikumpulkan di ruangan kantor TU yang berada di samping ruangan kepala sekolah yang kebetulan Kepala SMP Negeri 2 Kasokandel Sudarso S.Pd. sedang tidak ada di tempat. Kemudian ketujuh siswa dikasih nasehat dan dimarahi oleh guru olahraga/Penjas Nana Suherna,. S.Pd. bahkan sampai ditampar pipinya menggunakan kedua telapak tangan secara bersamaan hingga mengakibatkan sakit kepala pusing bahkan ada juga sampai giginya hampir copot. Diantara ketujuh siswa tersebut ialah AM kelas 9e, BJ kelas 9a, Ad kelas 9d, GS kelas 9e, BN kelas kelas 9e mengalami derita kepala pusing, Dn kelas 9a dan DA kelas 9d mengalami derita Gigi goyang hampir copot" jelas beberapa sumber.

Sumber menambahkan, "Dengan kejadian seperti ini kami sangat menyayangkan dengan tindakan oknum guru tersebut yang menurut kami sudah diluar batas kewajaran dalam mendidik atau memberikan hukuman terhadap murid yang nakal. Memang kami akui ketujuh siswa tersebut memang salah dan perlu dikasih hukuman, namun menurut kami hukuman tersebut bukan dengan cara kekerasan fisik atau menampar, alangkah baiknya hukuman tersebut dengan cara yang lebih mendidik pastinya bukan dengan cara kekerasan" tambahnya.

Awak media mendatangi dan melakukan konfirmasi kepada pihak SMP Negeri 2 Kasokandel dan berhasil menemui Kepala Sekolah, Sudarso S.Pd. dan yang bersangkutan langsung yaitu seorang oknum guru yang diduga telah melakukan penganiayaan, ialah Nana Suherna, S.Pd yang menjabat sebagai Wakasek kesiswaan sekaligus mengajar bagian Penjas.

Sudarso menjelaskan bahwa dirinya telah menanyakan kepada yang bersangkutan dan menjelaskan bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Senin 25/10.

"Yang jelas ketujuh siswa kami telah melakukan kesalahan yaitu mer*k* di lingkungan sekolah dalam waktu jam pelajaran. Dan kami sudah melakukan pembinaan terhadap siswa tersebut dengan sesuai aturan. Dan informasi telah terjadi penganiayaan terhadap siswa tersebut "Itu adalah tidak Benar" pihak kami tidak melakukan hal tersebut.

Untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan langsung kepada yang bersangkutan, kebetulan sekarang hadir" jelas kepala sekolah dan langsung disambung oleh Nana menjelaskan permasalahan.

"Awalnya pihak sekolah mendengar informasi dari beberapa siswa - siswi bahwasanya di toilet yang berada di lokasi sekolah suka ada murid yang mer*k*. Kemudian saya dan rekan melakukan patroli dan akhirnya ada tujuh orang siswa kepergok tangkap tangan sedang mer*k* dan kemudian saya kumpulkan di kantor sekolah. Saya tidak merasa melakukan penamparan kepada ketujuh siswa, saya cuma pegang kedua pipi kiri kanan sambil bertanya menatap matanya dengan maksud untuk supaya mereka jujur menjawab pertanyaan saya. Karena awalnya mereka tidak mengakui perbuatannya dan setelah saya tatap matanya, kemudian mereka semua mengakuinya" Kilah Nana sambil mempraktekkan dengan di iyakan rekannya.

"Kami sudah melakukan langkah dengan cara mengundang orang tua siswa yang bersangkutan lalu kemudian bikin surat pernyataan bahwasanya ketujuh siswa tidak akan mengulangi perbuatannya dan diketahui, ditandatangani oleh orang tua siswa. Dengan cara seperti itu, justru pihak orang tua banyak yang merasa berterima kasih kepada kami dan kalaupun memang telah terjadi penamparan, pastinya para orang tua ada yang merasa keberatan, nah faktanya sekarang tidak ada yang merasa keberatan dan itu membuktikan bahwa memang tidak ada peristiwa penamparan" tambahnya.

Penulis: Hendarto - Aceng.