Enther Nizar Klarifikasi Tidak Ada Pencekikan Dan Ini Masalah Pribadi Bukan Organisasi


PSC. Majalengka - Menindaklanjuti pemberitaan dibeberapa media online soal adanya penganiayaan yang dilakukan oleh salahsatu warga Majalengka terhadap Ketua Kadin Majalengka. Akhirnya, bertempat di dekat rumah kediamannya, Jl. K.H. Abdul Halim, EN orang yang disebut-sebut dalam pemberitaan itu angkat bicara sekaligus mengklarifikasi dan menceritakan kronologis yang sebenarnya. Kamis, (16/9/2021). 

"Ada rekan saya dari Organisasi, yaitu Ketua KOHATI. Beliau sering bareng saya, sering bantu juga, Nah..! Beliau mau bikin acara KOHATI. Minta bantuan ke saya, perihal masalah tempat untuk kegiatan acara tersebut. Alhamdulillah saya bisa sedikitnya membantu, tapi masih belum bisa tercover semua untuk acara tersebut," terangnya.

Masih keterangan dari EN, "Saya punya inisiatif mengarahkan Ketua KOHATI ini untuk datang ke seniornya yaitu saudara Redi yang sekarang sedang menjadi Ketua Kadin, 'coba minta bantuan ke sana' kata saya itu, barang kali beliau bisa bantu," imbuhnya.

Menurut EN, inisiatifnya itu bukan tanpa alasan. Karena, Redi Sugara itu adalah senior dari Ketua KOHATI tersebut.

"Hal yang tidak mungkin, kalau misalnya ini ada kadernya mau punya hajat masa iya orang tuanya gak bantu. Saya juga peduli, orang luar bukan dari organisasi KOHATI ataupun HMI saya aja peduli terhadap KOHATI ini, masa iya si dari HMI nya gak peduli gitu kan?" Katanya lagi.

EN pun merasa heran saat ditanya terkait penganiayaan yang dilakukannya terhadap Redi. karena, menurut dari pengakuan Ketua Kadin dibeberapa media online, sebelum bertemu, EN memberi sebuah ancaman melalui telepon pada Minggu malam.

Dikutip dari media RMOLJABAR. Sebelumnya, terang Redi, dirinya menerima ancaman lewat telepon dari pelaku pada Minggu (12/9) malam. Pelaku menyatakan akan mendatangi kantor Redi, sehingga pemukulan yang menimpanya diduga sudah direncanakan.

"Malam sebelum kejadian pelaku melakukan ancaman terlebih dahulu. Siangnya (Senin), saat saya di kantor, datang tiga orang," jelas dia.

"Dicekik dua kali, masing-masing di dalam ruangan dan di luar gedung. Saat mencekik yang pertama juga disertai pukulan menggunakan bundelan kertas," ungkapnya.

Dikatakan EN, terkait ancaman melalui telepon itu tidaklah benar. Maksudnya, supaya jelas lebih baik bertemu secara langsung.

"Mulai komunikasi by phone Ketua Kohati dengan Redi dan saya dengarkan, disitu ada bahasa jujur yang bikin saya tersinggung yaitu ada perkataan 'ada urusan apa si Enther diurusan KOHATI ini' jujur, itu lah yang memacu saya untuk melakukan tindakan bukan pemukulan, apa ya? Posisinya itu memang spontanitas" jelasnya.

Soal pencekikan, EN sama sekali tidak merasa melakukan tindakan yang tidak terpuji itu. "Soal pencekikan itu tidak ada dan saya siap untuk dipertanggung jawabkan. Beliau pun katanya sudah lapor terhadap kepolisian, ya nanti dari pihak kepolisian akan lebih jelas di penyelidikan atau di penyidikan. 

Semuanya kata EN, akan diserahkan kepada pihak yang berwajib. Semua akan terbukti didepan hukum, tidak bisa dibicarakan disini.

"Soalnya, saya disini juga sebetulnya gimana ya? Bicara soal gini, takutnya ada bahasa 'wah ini cuma pembelaannya' makanya, ya saya siap. Mau jalur hukum saya siap dan saya sangat menghormati hukum," lanjutnya.

EN juga menambahkan, jika dia datang ke PDSMU untuk menemui Redi itu murni pribadi bukan dari Organisasi, seperti yang diberitakan sebelumnya. "Saya atas nama pribadi tidak pakai atribut organisasi." Pungkasnya.

Penulis: Hendarto

Posting Komentar

0 Komentar