Kepsek SDN Ranji Wetan 1 Kangkangi Permendiknas Mengenai Penjualan Buku LKS

PSC. Majalengka – Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.2 tahun 2008. Salah satu isinya, yakni larangan bagi pihak sekolah ataupun tenaga kependidikan menjual buku pelajaran kepada murid. Kemudian lahir pula Peraturan Pemerintah No.17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Serta diperkuat lagi melalui Permendiknas No.75 Tahun 2016, serta Undang-Undang No.3 Tahun 2017 tentang pelarangan penjualan buku Tema dan LKS (Lembar Kerja Siswa)

Akhir akhir ini SDN Ranji Wetan I sedang menjadi buah bibir bagi para orang tua siswa pasalnya orang tua siswa tersebut mengeluhkan tentang dugaan adanya penjualan buku LKS atau lebih akrab disebut buku Tema bisa juga disebut buku Paket disekolah tersebut. Diketahui SDN Ranji Wetan I beralamat di Desa Ranji Wetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka yang tepatnya berada dilingkungan kantor desa Ranji Wetan.

Adanya dugaan penjualan buku LKS atau buku Tema tersebut berdasarkan keterangan dari orang tua beserta beberapa murid menerangkan, Siswa-siswi di SDN Ranji Wetan I, diharuskan untuk membeli buku buku LKS dengan jenis nama yang lain yaitu buku TEMA atau Buku Aktivitas, Sekarang ini buku tersebut baru ada tiga dengan harga perbukunya yaitu Rp 20.000 x 3 = Rp 60.000 dan menurut kabar dari murid bahwa akan ada lagi buku tambahan lainnya yang harus dibeli, selaku Orang tua merasa terbebani dengan penjualan buku tersebut, sebab yang kami tahu sekolah dari Mulai SD Sampai tingkat SLTA Itu sudah dibiayai oleh Negara.

“Kami minta buku LKS atau buku Tema yang selain dari buku Kurikulum 2013 jangan dimasukkan kedalam pelajaran, karena percuma murid yang tidak punya buku Tema pasti bakal minta terus dibelikan pada orang tuanya," jelas narasumber.

Menanggapi permasalahan ini kini semakin terkuak kuat dugaan bahwasanya pihak sekolah secara sengaja mengarahkan kepada muridnya untuk membeli buku LKS atau lebih akrab disebut buku Tema bisa juga disebut buku Paket namun pihak sekolah berkilah bahwa pihaknya tidak merasa memperjualbelikan buku LKS tersebut

Hal ini dikarenakan menurut pengakuan Kepala SDN Ranji Wetan 1 Cicih Suparsih, S.Pd. bahwa buku kurikulum 2013 yang sudah ditetapkan oleh pemerintah kurang memenuhi kebutuhan pelajaran murid muridnya,

"Kami tidak merasa memperjual belikan buku Tema, karena itu keinginan para murid sendiri untuk membelinya dengan cara titip uang kesalah satu guru kemudian belanja ke toko buku yang berada di Jatiwangi, Kalau memang murid tidak butuh buku tersebut ya jangan beli, cukup dengan mengikuti pelajaran dengan cara menulis, memang kami akui kalau pihak sekolah berani menjual buku Tema itu sebuah kesalahan" jelas Kasek Cicih.

Cicih juga menambahkan, "Kami sengaja menambahkan buku Tema sebagai pelajaran tambahan dikarenakan buku kurikulum 2013 yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yang pembeliannya dibiayai oleh anggaran BOS itu kurang materi untuk memenuhi kebutuhan pelajaran murid, seperti pembahasan buku kurikulum 2013 tidak diterangkan secara mendetail. Nah, beda lagi dengan buku Tema penerangannya secara mendetail jadi murid cepet memahami, itulah alasan kami memakai buku Lks atau buku Tema biar murid cepat pintar," tambahnya. (Hendarto)

Posting Komentar

0 Komentar