Pemdes Beusi Diduga Melakukan Pelanggaran Hukum, Membangun Jalan Diduga Hasil Rampasan Dari Tanah Hak Keluarga Joko Purnomo


PSC. Majalengka - Menindaklanjuti pemberitaan edisi sebelumnya terkait judul "Pemdes Beusi Diminta Arahkan Warga Untuk Tertibkan Administrasi Kepemilikan Tanahnya"

Usut punya usut semakin tercium aroma Pemdes Beusi dituding melakukan pelanggaran hukum, hal ini dikarenakan membangun beberapa ruas jalan dengan ukuran lebar 3 meter sampai 6 meter dengan ukuran panjang cukup lumayan sedangkan jalan tersebut diduga hasil rampasan dari tanah hak keluwarga Joko Purnomo selaku ahli warisnya.

Joko Purnomo Wardaya warga Desa Mekarsari Kecamatan Jatiwangi Kabupatan Majalengka mempertanyakan status jalan yang dibangun dan di hotmix di atas tanah waris miliknya oleh Pemerintah Desa Beusi yang menghubungkan antara Desa Beusi ke dusun Serang Desa Tegalaren Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka. 

Jopu sapaan akrabnya mengatakan kepada awak media, bahwa tanah jalan di blok rabu dan kamis, kampung rancabalong timur yang menurut peta wilayah masuk desa Tegalaren namun penduduknya berdomisili warga desa Beusi, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. Adalah merupakan tanah waris dari turunan H. Yoyo Wardaya/Siti Nurmala (ayah/ibunya) dan turunan dari H. Kadi Abdurochman/Hj Hasanah (kakek/neneknya).

"Dulu kakek saya mempunyai tanah seluas 4.5 bau atau dalam hitungan bata sekitar 2500 bata dan hitungan meter persegi sekitar 35.000 meter persegi kemudian oleh kakek sampai bapak tanah tersebut dijual dengan cara di kavlingkan dan tersisa tanah kavling beberapa bidang dan akses jalan masih atas nama keluwarga saya buktinya sampai sekarang masih tertera dalam Sppt seluas 5.197 meter persegi tagihan pajak atas nama nenek saya Hj Hasanah dan masih dibayar setiap tahunnya sama keluwarga saya. 

"Saya kaget" koq tanah saya sekarang sudah menjadi jalan dan sudah di hotmix, dan pihak Pemdes Beusi dari dulu tidak ada pemberitahuan, mestinya pihak Pemdes sebelum melakukan pembangunan di atas tanah milik, harus menempuh peralihan haknya dulu agar terhindar dari permasalahan hukum. Saya tahu bahwa jalan adalah fungsi sosial tapi ya tempuh dulu aturannya" paparnya.


Jopu mengatakan setelah meninggalnya almarhum bapak, saya menerima hak waris yang diantaranya termasuk tanah yang sekarang menjadi akses jalan tersebut dan saya yaqin sekitar luas 100 sampai 150 bata yang sekarang dipakai jalan itu murni hak tanah waris untuk saya dan ini bisa saya buktikan legalitas kepemilikannya dimata hukum. Saya tidak ada niatan untuk menggugat tapi yang saya inginkan kalau tanah saya dibutuhkan oleh masyarakat ya silahkan kita bicarakan baik baik secara kekeluwargaan cari soslusinya, seharusnya masyarakat dengan pemdes beusi mempunyai rasa merasa dan pengakuan bahwa itu betul tanah hak Joko Purnomo, bukannya saling melempar tanggung jawab apalagi mencari akal pembelaan untuk mengalahkan saya, karena tanah saya dipakai, dibutuhkan oleh masyarakat Beusi dan bangun oleh pemdes Beusi" tuntasnya.

Untuk melengkapi informasi awak media mendatangi kantor desa Tegalaren dan mendapatkan keterangan dari Sekretaris Desa bapak Kuswanto, kepada awak media sekdes menjelaskan, 

"Memang betul dulu leluhur Joko mempunyai tanah berada di komplek rancabalong timur yang menurut peta wilayah masuk desa Tegalaren makanya setiap ada tagihan pajak tanah dan pengurusan jual beli masuk ke desa Tegalaren. Namun penduduknya berdomisili warga desa Beusi tepatnya blok rabu dan kamis, Saya ketahui setiap tahunnya ada tagihan pajak tanah untuk keluwarga Joko yang masih bernama neneknya Hj Hasanah cuma saya juga heran setau saya tanahnya keluwarga Joko sedikit tapi tertera dalam Sppt tagihan pajak jumlah ukuran tanahnya lebih banyak sampai seluas 5.197 meter persegi. Maka pantas saja kalau menurut pengakuan Joko kalau tanahnya sebagian dipakai untuk jalan" jelas sekdes Kuswanto.

Dan kemudian awak media melanjutkan konfirmasi kepihak pemerintah desa Beusi, dikarenakan kepala desa Beusi Uus Usman H sedang tidak ada ditempat dan akhirnya kades Usman mewakilkan kepada ketua Lpm bapak Surahman menjelaskan, 

"Saya sebagai ketua Lpm desa Beusi sekaligus mewakili kepala desa Beusi Uus Usman H untuk menjawab pertanyaan dari awak media. Masyarakat kami yang berada di blok rabu dan kamis yang sebelah timurnya menurut peta wilayah masuk desa Tegalaren namun penduduknya berdomisili warga desa Beusi, tentang permasalahan tersebut selaku pihak desa kami persilahkan kepada Joko untuk mengurusnya langsung dengan warga tidak perlu melibatkan pihak pemerintah desa Beusi. Dikarenakan pemdes Beusi yang sekarang baru terbentuk tahun 2019 kemarin, kepala desanya baru dan perangkatnyapun banyak yang baru jadi wajar kalau pemdes sekarang bisa bilang tidak tahu" jelas Surahman dengan enteng. 

"Apalagi kalau pa Joko merasa punya hak dan punya bukti sah secara hukum, apa susahnya tinggal gugat saja ke pengadilan. Biar masyarakat dan pihak desa bisa melek hukum sebagai pelajaran bagi mereka. Tentang status jalan tersebut pihak desa sekarang belum bisa mengecek apakah termasuk aset desa ataukah tanah milik keluwarga joko purnomo, karena masih sibuk dengan permasalahan wabah virus Covid-19. Memang betul dulunya sekitar tahun 2011/2012 saat menjabat kepala desa HM Dadang Agusrana beberapa ruas jalan dengan ukuran lebar 3 meter sampai 6 meter dengan ukuran panjang cukup lumayan itu mulai dibentuk dan dilanjutkan pengerasan sampai dihotmix oleh pemdes pimpinan Kades Eeng Taam sampai pimpinan Kades kemarin bapak Regie Galant S. Cuma menurut logika kami, mana mungkin dulu terjadi pembentukan dan pembangunan jalan ditanah milik warga, pastinya saat itu sudah terbentuk kesepakatan dengan leluhurnya joko secara lisan atau tulisan apakah dihibahkan atau proses lainnya. Yang jelas kami simpulkan pihak leluhur joko tidak akan mempermasalahkan tentang akses jalan tersebut" tambah Surahman. 

Mengklarifikasi tulisan nama ketua Lpm desa Beusi yang dalam pemberitaan edisi sebelumnya dicantumkan nama bapak Budi Rahman adalah salah, yang sebenarnya adalah bapak Surahman. 
Kami pihak media www.pewartasemesta.com meminta permohonan maaf kepada yang bersangkutan dan yang merasa dicatut namanya.


Penulis; Ato. 
Keterangan photo; Joko Purnomo Wardaya pemilik hak waris tanah.

Posting Komentar

0 Komentar