Belum Beres Proses Cerai Perangkat Desa Dawuan Sudah Menerima Tamu Bukan Muhrim



PSC. Majalengka - Perangkat desa adalah orang yang terpilih diantara sekian banyak masyarakat di Desa, maka sudah sepatutnya dia adalah orang yang pintar dan beradab juga menjadi pigur dan panutan yang baik bagi warga desanya.

Namun apa yang terjadi di desa Dawuan kecamatan Dawuan, kabupaten Majalengka salah satu perangkat desanya perempuan berinisial (SF) selaku Bendahara ini bertolak belakang dengan aturan dan mendapatkan respon negatif dari masyarakat desa Dawuan. 

Pasalnya (SF) yang saat ini sedang mengalami masa transisi status dikarenakan sedang melangsungkan proses perceraian dengan suaminya yaitu inisial (DH) dan belum resmi bercerai dirinya sudah berani secara terang terangan menerima tamu yang bukan muhrim. 

Beberapa Warga mengatakan pada media ini, "Selaku masyarakat desa Dawuan kami merasa prihatin dengan rumor ditengah masyarakat bahwa ada perselingkuhan antara (SF) selaku Bendahara desa Dawuan dengan Pria berinisial (TP) beralamat di Perum Bumi Sawala Baru. Awal peristiwa itu terjadi beberapa hari lalu (SF) kepergok oleh suaminya (DH) sekitar pukul 10 malam sedang menerima tamu (TP) dan setelah ditanya bahwa (SF) dan (TP) telah berjalan-jalan naik motor berboncengan berdua, lantas terjadi cek-cok bertengkar dan kemudian tetangga berdatangan," Ucap warga. 

Warga juga menjelaskan, "Memang setau kami (SF) dengan suaminya (DH) sekarang sedang proses perceraian, namun yang kami ketahui seharusnya (SF) jangan dulu mendekati laki-laki lain karena dia belum sah status JANDA dan bisa jadi kemungkinan RUJUK kembali dengan suaminya (DH), jelas warga

Untuk melengkapi informasi awak media mengirimkan surat konfirmasi kepada Bapak Abdul Rohiman Baehaki.S.SY Kepala Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka dengan nomor; KFR - PWS - III - 161 - 2020.

Dan kemudian pihak desa Dawuan mengirimkan surat jawaban dengan nomor; 470/52-Desa, yang ditanda tangani oleh Bapak Abdul Rohiman Baehaki.S.SY selaku Kepala Desa Dawuan.
Didalam isi surat tersebut menyimpulkan bahwa semua yang dituduhkan oleh sumber itu hanyalah informasi bohong dan tidak terjadi perselingkuhan antara (SF) selaku Bendahara desa Dawuan dengan (TP) karena mereka berdua hanya teman biasa, dan (SF) tidak terbukti telah melanggar hukum karena pihak desa Dawuan menjunjung tinggi "Azas Praduga tak Bersalah".

Bahwa berdasarkan keterangan dari sdr. (Sf) Kronologisnya pada pukul 20.00 wib yg bersangkutan sdr. (Sf) berada dirumah saya (kepala desa Dawuan) sedang memberikan laporan perihal pekerjaan. Kemudian pergi ke kantor desa Dawuan sampai pukul 21.30 wib dan setelah saya telusuri kepada warga sekitar terkait kejadian pada malam sabtu yang menurut saksi kuat yaitu ibu Rini seorang pedagang nasi kuning yang berjualan tepat di depan rumah sdr. (Sf) menerangkan bahwa yang bersangkutan pada saat itu berada di dalam rumah tepatnya diruang tamu bersama tamu yang berkunjung dan ditemani oleh ponakan serta orang tuanya. Kemudian datang sdr. (DH) sambil teriak-teriak bahwa yang bersangkutan selingkuh bahkan menurut yang bersangkutan sdr. (SF) bahwa sdr. (DH) diduga telah melakukan perbuatan melanggar hukum yaitu perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Dan sebenarnya tidak ada penggerebekan yang menyertakan RT/RW serta aparatur Desa. Kami selaku kepala desa Dawuan telah memanggil yang bersangkutan sdr. (Sf) guna memberikan teguran berupa sanksi peringatan terkait teman yang berkunjung diatas jam kewajaran. Dan jangan kejadian tersebut terulang kembali. jelas isi dalam surat jawaban tersebut


Penulis; Ato. 
Photo; Ilustrasi.

Posting Komentar

0 Komentar